Category Archives: Penelitian

Alat Pendeteksi Longsor

Definisi Longsoran

Longsoran  merupakan  salah  satu  bencana  alam  yang  sering  melanda daerah perbukitan didaerah tropis basah. Kerusakan yang diakibatkan oleh longsoran tidak hanya kerusakan secara langsung seperti rusaknya fasilitas umum ataupun korban manusia akan tetapi juga kerusakan yang mampu melumpuhkan kegiatan pembangunan dan aktifitas ekonomi di daerah bencana dan sekitarnya.

Longsoran adalah perpindahan massa tanah atau batuan pada arah tegak, miring atau mendatar dari kedudukan semula yang diakibatkan oleh gangguan keseimbangan massa tanah pada saat itu yang bergerak   kearah bawah melalui bidang gelincir dan material pembentuk lereng.

Jadi, longsoran adalah suatu fenomena dinamis alam untuk mencapai kondisi baru akibat  gangguan  keseimbangan  lereng yang terajadi,  baik secara alamiah maupun akibat ulah manusia.

Faktor Penyebab Tanah Longsor

Tanah longsor dapat terjadi karena faktor alam dan faktor manusia sebagai pemicu terjadinya tanah longsor (DVMBG, 2005) yaitu:

Faktor Alam

Kondisi alam yang menjadi faktor utama terjadinyalongsor antara lain:

  1. Kondisi Geologi: batuan lapuk, kemiringan lapisan, gempa bumi dan gunung api, lapisan batuan yang kedap air miring ke lereng yang berfungsi sebagai bidang longsor.
  2. Keadaan tanah:  erosi  dan  pengikisan,  adanya  daerah  longsoran lama,  ketebalan tanah pelapukan bersifat lembek, butiran halus, tanah jenuh karena air hujan.
  3. Iklim : curah hujan yang tinggi, air (hujan diatas normal).
  4. Keadaan topografi: lereng yang curam.
  5. Tutupan lahan yang mengurangi tahan geser, missal lahan kosong, semak belukar di tanah kritis.

Faktor Manusia

Ulah manusia yang merusak lingkungan alam :

  1. Penimbunan tanah urugan di daerah lereng.
  2. Pemotongan tebing pada penambangan batu di lereng yang terjal. c.  Adanya budidaya kolam ikan dan genangan air di atas lereng.
  3. Pengembangan wilayah  yang tidak diimbangi dengan  kesadaran masyarakat, sehingga RUTR tidak ditaati yang akhirnya merugikan sendiri.
  4. Kegagalan struktur dinding penahan tanah.

Penyebab terjadinya tanah longsor dapat bersifat statis dan dinamis. Statis dimana kondisi alam seperti sifat batuan (geologi) dan lereng dengan kemiringan sedang hingga terjal, sedangkan dinamis akibat ulah manusia.

Penelitian Yang Telah Dilakukan

Pengetahuan  dan teknologi  yang  diperlukan  dalam penelitian  ini telah dikuasai sejak tahun 2009. Penelitian terkait jaringan sensor nirkabel yang telah dilakukan oleh pengusul adalah sebagai berikut:

Penelitian dan implementasi tahun 2009 (tidak terpublikasi) tentang perancangan jaringan sensor terdistribusi untuk pemantauan suhu, kelembaban, intensitas cahaya, kecepatan angin, arah angin  dan curah hujan. Sistem terdiri atas 2 node sensor-aktuator dan 1 node kontroler. Antar node terhubung   secara   kabel. Node sensor   dapat   mengambil informasi   suhu, kelembaban udara, intensitas cahaya kecepatan angin, arah angin dan curah hujan serta menampilkan emulasi aktuator di layar LCD dan mengirimkannya ke server melalui SMS.

1.) Penelitian  PUPT  tahun 2015  dan  2016 dengan  judul “Jaringan  Sensor Nirkabel pada Kampus Hijau” yang dipublikasikan pada Jurnal Interasional dan Seminar Internasional. Pada penelitian ini dirancang jaringan sensor yang mengambil data suhu, kelembaban, kadar oksigen, kadar CO dan debu (Gambar

2.) Sistem terdiri dari 5 titik sensor dan 1 titik kontroller. Antar titik dihubungkan dengan kabel dan data ditampilkan pada layar LED dot matriks dan dikirim ke server menggunakan koneksi internet.

Keunggulan Pendeteksi Tanah Longsor Berbasis IoT

Alat pendeteksi indikasi dini terjadinya tanah longsor berbasis internet of things memiliki keunggulan sebagai berikut:

  1. Menggunakan sistem  online  yang  tidak  hanya  menggunakan  sms  blast  ke stasiun lokal di desa namun juga dengan memanfaatkan internet untuk pemantauan data secara kontinyu dan realtime.
  2. Alat pendeteksi longsor online yang sudah ada adalah hanya menghubungkan alat mitigasi di lapangan dengan stasiun pemantauan lokal. Pengiriman data bila terjadi bencana berasal dari alat mitigasi bencana ke pemantauan lokal di desa setempat hanya dengan menggunakan data sms. Pada sistem pendeteksi dini longsor berbasis Internet of things, pengiriman data secara real time terus menerus dari alat mitigasi bencana ke pengolahan data dengan memanfaatkan jaringan internet. Data yang dihasilkan tidak hanya dikirim ke stasiun secara lokal, tapi diteruskan menuju web server untuk diolah dan dapat diakses oleh pihak yang   berkepentingan   dimanapun   mereka   berada   dengan   tujuan memantau potensi longsor.
  3. Alat pendeteksi dini terjadinya tanah longsor memiliki desain yang kompak dan portable untuk di segala medan lapangan. Serta memiliki sifat yang mudah digunakan (user friendly) yang bisa diatur melalui perangkat berbasis android dan laptop.
  4. Alat pendeteksi dini terjadinya tanah longsor memiliki banyak parameter dalam mendeteksi indikasi dini terjadinya tanah longsor. Menggunakan 5 parameter sensor yang saling terintegrasi dalam satu sistem. Data parameter curah hujan, regangan tanah, kelembaban, maupun pergeseran tanah dikirimkan melalui internet dan kemudian diterima di web server digunakan sebagai prediksi kemungkinan saat kapan terjadinya longsor.
  5. Alat pendeteksi yang sangat ekonomis dalam mitigasi bencana tanah longsor untuk bisa di produksi secara masal.